Pecenongan, Newshunters – Acara diskusi rutin GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Kamis-Senin, 9 Juni 2026 di Sekretariat, Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat, diawali pembahasan spontan tentang gebrakan pihak Kepolisian menggeledah sejumlah tempat — rumah di Sentul dan Cafe de’Clan yang terkait dengan Jampidsus (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus) Febrie Adriansyah yang sedang viral dan menjadi pergunjingan hangat publik.
Sehingga dari kilasan pembahasan tersebut lahir tulisan bergaya satire “Upaya Membedah Rumah Yang Sudah Bobrok dan Bocor di Semua Tempat Memang Harus Segera Dilakukan Presiden Sekarang Juga”, agar segenap penghuninya dapat segera terbebas dari ancaman kemiskinan berkelanjutan seperti yang diamanahkan oleh UUD 1945, terbebas dari kemiskinan dan kebodohan.
Ikhwal kemiskinan dan kebodohan menjadi topik bahasan utama yang membenarkan segala bentuk tindakan pencegahan dan pemberantasan beragam jenis dan model korupsi di Indonesia yang terus berkembang liar hingga tidak lagi bisa disangkal telah menjadi semacam budaya baru — kalau tidak bisa dikatakan ideologi dari pejabat publik — yang ingin cepat kaya untuk dapat terus mempertahankan jabatan atau kekuasaan dirinya, karena tidak lagi hendak menjalankan amanah atau etos pengabdian hingga berhak menyandang julukan kehormatan sebagai abdi negara untuk melayani rakyat.
Diskusi yang seru ini sudah dimulai penulis bersama Joyo Yudhantoro, lalu ditimpali Sri Eko Sriyanto Galdendu hingga kemudian harus memisahkan diri untuk menerima rombongan Rosa dan kawan-kawan untuk konsultasi tentang berbagai hal dengan Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara.
Sesaat kemudian Zainul ikut bergabung seakan menggantikan Sri Eko Sriyanto Galgendu, hingga topik politik semakin meluas terbahas, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang memanas di negeri ini.
Hingga kemudian Zainul menganggap penting untuk mengajak kedua koleganya ikut bergabung untuk menemukan kesamaan simpul dalam gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual agar semakin cepat membumi dan menjadi landasan sikap serta perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatasi carut marut perilaku serta pola hidup hedonis yang lebih cenderung — bahkan dominan orientasinya pada hal-hal yang bersifat material, hingga jadi kering nilai-nilai spiritual. Padahal, kerusakan yang terjadi di bumi — tak hanya di Indonesia — lantaran manusia abai pada etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai penjaga rahmatan lil alamin.
Pemimpin politik dan pemimpin spritual, pemimpin agama dan sosok pemimpin dalam bidang lainnya memang tidak cuma memiliki etika, miral dan akhlak mulia semata, kn atena sosok seorang pemimpin perlu memiliki keberanian untuk melakukan perubahan menuju tatanan negara dan bangsa yang lebih baik dari kondisi seperti yang ada sekarang, sehingga dapat membangun peradaban yang lebih manusiawi, dan menghargai alam dan budaya serta nilai-nilai spiritual dan keagamaan hingga dekat dengan Tuhan.
Pada babak ini diskusi informal Kamis-Senin GMRI semakin gayeng setelah bergabung dua sahabat dan kerabat GMRI lainnya, Sambang Sutjipto dan Vgh. Tarno Tuna, hingga diskusi santai GMRI usai sholat Isya dengan berbagi pengalaman dan pandangan spiritual yang lebih mendalam mengakar pada budaya dan tradisi leluhur kita yang sangat dahsyat dan kuat dibanding spiritual bangsa barat.
Realitasnya begitulah, ketika mengulik Akar Spiritual Leluhur Bangsa Timur jauh lebih dalam menghunjam di kedalaman hati. Karena spiritual Barat mencari energi kedahsyatan spiritual di luar diri, sedangkan Bangsa Timur justru masuk pada kedalaman batin. (Rilise)






